Wed. Mar 11th, 2026
Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook
Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook
Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook
Ilustrasi Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook

Pendahuluan

Mengekspresikan keyakinan religius di media sosial di masa sekarang menjadi sebuah bentuk kreativitas dan kebebasan. Tidaklah mengherankan apabila dalam ruang media sosial seperti Facebook, kita dapat dengan mudah menemukan narasi-narasi religiusitas yang dogmatis dan biblis yang dipublikasikan dengan beragam tujuan. Hal ini hendak menunjukkan bahwa ekspresi religius di masa sekarang semakin cair, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin cair pula.

Sebagai masyarakat yang bertumbuh dan berkembang di era modern seperti sekarang, penggunaan internet dan media sosial seperti Facebook juga sudah menjadi kebutuhan. Dalam ruang-ruang tersebut, setiap orang difasilitasi dan dimungkinkan untuk berekspresi, termasuk mengekspresikan religiusitas melalui konten-konten yang dipublikasikan baik secara individual maupun secara kelompok dengan bergabung dalam grup-grup komunitas. Di satu sisi hadirnya media sosial seperti Facebook memungkinkan perluasan komunikasi dan konektivitas namun di sisi lain Facebook mengkonstruksi arena baru untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kehidupan masyarakat.

Kehadiran Facebook sebagai media penghubung atau ruang ketiga untuk membangun konektivitas yang luas dengan setiap orang di dunia virtual dapat dikatakan meraih kesuksesan. Berdasarkan laporan terbaru We Are Social, Facebook memiliki 3,03 miliar pengguna aktif hingga Oktober 2023. Capaian tersebut membuat platform milik Mark Zuckerberg ini semakin kokoh menjadi media sosial terpopuler dunia. Berikutnya, YouTube menjadi media sosial terpopuler kedua dunia dengan 2,49 miliar pengguna aktif Oktober 2023.Lalu, Whatsapp dan Instagram berada di urutan ketiga dan keempat dengan sama-sama memiliki 2 miliar pengguna aktif. Posisi selanjutnya ada Wechat yang memiliki 1,32 miliar pengguna aktif. Kemudian, diikuti oleh TikTok dengan 1,21 miliar pengguna aktif, Facebook Messenger 1,03 miliar pengguna aktif, Telegram 800 juta pengguna aktif, Snapchat 750 juta pengguna aktif, dan Douyin 743 juta pengguna aktif. Kuaishou, X (Twitter), Sina Weibo, QQ, dan Pinterest memiliki jumlah pengguna aktif lebih sedikit seperti terlihat pada grafik di atas. Jumlah pengguna media sosial global pada Oktober 2023 naik 76 juta orang atau 1,6% secara kuartal (quarter-to-quarter/qtq). Jika dibandingkan secara tahunan, jumlah pengguna aktif media sosial global pada bulan lalu bertambah 215 juta pengguna baru atau naik 4,5% (year-on-year/yoy). Menurut We Are Social, secara total ada 4,95 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia per Oktober 2023. Angka ini setara dengan sekitar 61,4% dari total populasi global sebesar 8,06 miliar orang[1].

Di Indonesia sendiri, Faebook masih menjadi salah satu media sosial yang paling sering digunakan. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak. Jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai 119 juta orang. Pada tahun ini India menjadi negara dengan pengguna Facebook terbanyak. Dengan jumlah 314 juta pengguna menjadikannya pemimpin di deretan daftar negara pengguna Facebook terbanyak tahun 2023. Di bawahnya disusul oleh Amerika Serikat dengan jumlah total 175 juta pengguna. Pada posisi ketiga terdapat Indonesia dengan jumlah 119 juta pengguna. Media sosial paling populer di dunia ini juga memiliki banyak pengguna di berbagai Benua Amerika. Hal tersebut didasari dari munculnya negara Brazil dan Meksiko pada posisi empat dan lima negara dengan pengguna Facebook terbanyak dengan jumlah 109 juta dan 83 juta pengguna[2].

Berdasarkan data yang dijelaskan di atas, dapat dilihat bahwa 8 miliar orang menggunakan media sosial. Pengguna Facebook untuk Indonesia mencapai 119 juta. Hal ini hendak menunjukkan bahwa media sosial ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial dan sudah menjadi kebutuhan setiap orang baik dalam hal berkomunikasi, pemasaran dan marketing, hingga sebagai alat untuk menyebarkan konten-konten yang religius dan politis.

Dalam keterhubungannya dengan religiusitas, masyarakat Indonesia selalu mengekspresikan kebudayaan dan keyakinan religius mereka dalam hidup sosial. Ekspresi ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan melainkan pula sebagai bentuk performativitas identitas dan sekaligus konstruksi identitas religius. Dan ketika media sosial muncul termasuk Facebook, performativitas identitas religius ini semakin sering ditampilkan. Pertanyaan pertama yang kemudian menjadi stimulus adalah mengapa fenomena ini penting untuk dipelajari? Fenomena ini penting untuk dipelajari karena kontekstual juga kontemporer. Di sisi lain, saya melihat bahwa praktek performativitas identitas religius di Facebook telah menjadi sebuah habitus. Penggunaan Facebook nampaknya sudah menjadi kewajiban dan keharusan. Karena menjadi sebuah keharusan maka setiap orang terus-menerus berkompetisi untuk memproduksi konten-konten religius.

Mengapa fenomena ini lalu menjadi sebuah masalah? Fenomena ini menjadi sebuah masalah karena performativitas identitas religius dan identitas religius performatif dalam ruang media sosial Facebook menciptakan kesenjangan yang kompleks mengenai keautentikan, konteks sosial, dan dampak psikologis individu.

Kepemilihan Facebook sebagai media sosial didasarkan pada pengamatan awal bahwa selain menjadi media sosial pertama yang dikenal dan oleh karena itu banyak digunakan, Facebook juga menyediakan ruang yang luas untuk berkreativitas yang difasilitasi dengan fitur-fitur menarik yang mudah untuk digunakan. Di sisi lain saya menemukan bahwa terdapat beberapa faktor yang memungkinkan dan yang menjadi jalan masuk mengapa orang menggunakan Facebook sebagai ruang ketiga untuk memperformativitaskan identitas religiusnya dan yang sekaligus juga mengkonstruksi identitas religiusnya.

Fenomena dan obyek material yang telah saya paparkan menunjukkan bahwa topik utama yang akan dibahas dalam penelitian ini yakni analisis performativitas identitas dan identitas religius performatif dalam ruang Facebook. Fokusnya terletak pada praktik penggunaan media sosial Facebook dengan mengobservasi dan menganalisis data dan informasi dari para pengguna. Berangkat dari topik ini maka terdapat beberapa pertanyaan yang dapat diajukan sebagai rumusan masalah.

  • Mengapa setiap orang merasa penting untuk memperformativitaskan identitas religiusnya dalam ruang media sosial Facebook? Mengapa hal ini lalu menjadi masalah?
  • Bagaimana Facebook sebagai ruang ketiga memfasilitasi performativitas identitas religius ini? Atau strategi apakah yang digunakan Facebook sehingga performativitas identitas religius ini dapat langgeng dan diproduksi secara terus-menerus?
  • Identitas religius yang bagaimanakah yang terkonstruksi dari praktek semacam ini?

Artikel ini bertujuan tidak hanya membongkar wacana identitas religius yang membentuk identitas dan tingkah laku para pengguna melalui Facebook melainkan pula bertujuan untuk membedah tindakan dan identitas yang tidak disadari yang telah terbentuk secara mapan melalui praktek semacam ini. Hasil dari penelitian ini tidak dimaksudkan menjadi hasil penelitian yang mutlak akan tetapi tetap terbuka pada sumbangan pemikiran yang membantu pencarian menemukan pengetahuan yang baru.

Dalam upaya membedah fenomena, artikel ini akan menggunakan teori dari Stewart M. Hoover tentang agama dan media. Menurut Hoover (2006), problem identitas religius performatif mengacu pada tindakan-tindakan (praktek) tertentu untuk menegaskan dan menunjukkan identitas tersebut kepada orang lain. Hoover menyoroti bahwa dalam masyarakat modern, identitas religius sering kali menjadi alat untuk menunjukkan afiliasi dan mendapatkan pengakuan sosial, daripada menjadi refleksi dari keyakinan pribadi yang mendalam. Hal ini menciptakan masalah ketika identitas religius lebih difokuskan pada aspek-aspek eksternal dan performatif, dibandingkan dengan esensi atau substansi dari keyakinan itu sendiri.

Walaupun teori utama dari penelitian ini diletakkan dalam bingkai pemikiran Hoover, namun saya juga akan menggunakan beberapa referensi yang lain dengan tujuan agar fenomena yang dibahas ini memiliki kekuatan ilmiah yang cukup kuat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun penelitian ini akan menggunakan metode discourse analysis atau analisis diskursus atau wacana yang berfokus pada wacana sosial termasuk religiusitas. Pendekatannya adalah pendekatan objektivis. Saukko (2003:78-79) menjelaskan posisi peneliti yang menggunakan pendekatan ini dalam penelitiannya berada di luar. Peneliti meneliti “dari luar” kekuatan-kekuatan diskursif yang membentuk identitas dan tingkah laku orang. Asumsinya, peneliti mampu menganalisis wacana-wacana ini, membimbing tindakan dan identitas orang-orang yang diteliti, yang dipandang tidak menyadari itu.

Selain menggunakan metode analisis wacana dalam perspektif Kajian Budaya dan yang mengandalkan kekuatan interpretasi peneliti, namun karena artikel ini berhubungan dengan media maka analisis wacana religius tersebut akan ditempatkan pula dalam media discourse. Ida Rachmah (2014:89) menjelaskan:

Analisis wacana yang ditempatkan dalam media memberikan kesempatan kepada seorang peneliti untuk memahami kondisi-kondisi di balik persoalan tertentu atau yang spesifik. Analisis wacana juga memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang paling tinggi dan memberikan kita pandangan yang komprehensif tentang persoalan dan diri kita dalam hubungannya dengan persoalan tersebut.

 

Bersambung…

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *