Wed. Mar 11th, 2026
Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook
Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook

Pembahasan

  1. Problematika Performativitas Identitas Religius dalam Ruang Media Sosial Facebook

Performativitas identitas religius dalam Facebook memperlihatkan adanya transisi dalam masyarakat dari masyarakat media massa, menuju masyarakat media sosial yang lebih aktif, partisipatif dalam hal bertukar informasi, ide dan konten secara digital. Di era perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih seperti sekarang ini, kehadiran media sosial seperti Facebook dapat dikatakan menjawab kebutuhan masyarakat komunikatif yang haus akan informasi, ruang untuk berekspresi yang terbatas di dunia nyata, ruang untuk membentuk makna dan menegosiasiskan banyak hal termasuk religiusitas dan konstruksi identitas. Dengan kata lain, Facebook menyediakan konteks yang memungkinkan identitas religius dapat diartikulasikan dan dipahami (Hoover, 2006:26-27).

Berdasarkan observasi pada Facebook, saya menemukan ada begitu banyak konten religius yang dipublikasikan. Mulai dari status singkat yang memuat ayat-ayat religius, foto yang berisi pesan-pesan religius, film pendek religius hingga renungan singkat atau panjang. Observasi ini memunculkan beberapa interpretasi. Pertama, ada semacam kebutuhan untuk menggunakan narasi-narasi religiusitas yang dahulunya dianggap tabu dan yang hanya boleh digunakan oleh para tokoh agama saja. Oleh karena itu, setiap orang berkompetisi menggunakan narasi religius yang tidak hanya bertujuan untuk menampilkan identitas mereka, menampilkan ideologi yang mereka yakini dan percayai melainkan juga untuk menunjukkan bahwa narasi religius bukan menjadi milik para tokoh agama saja.

Dapat dikatakan, ada semacam upaya perlawanan untuk membebaskan narasi dogmatis dan biblis dari kuasa para tokoh agama. Upaya perlawanan ini memunculkan sisi lain dalam beragama di era digital dan hal itu terwujudnyatakan dengan hadirnya media sosial, termasuk Facebook yang memberi ruang cukup luas.

Kedua, penggunaan narasi-narasi keagamaan dengan tujuan memperformativitaskan identitas religius ini sering didasari kepentingan individual atau kelompok. Entah karena ingin menunjukkan identitas sebagai orang beriman atau karena ingin meraih dukungan dalam ranah politik. Realitas ini menurut saya memunculkan sebuah masalah baru. Hadirnya media sosial seperti Facebook, tidak hanya berperan mengkonstruksi religiusitas seseorang atau kelompok tertentu, melainkan juga mengaburkan batas antara ruang privat dan ruang sakral di mana terjadi proses komodifikasi yang mana hal ini akan mempengaruhi identitas religius seseorang.

Ketiga, saya menemukan juga bahwa praktek semacam ini muncul barangkali karena kurangnya ruang yang luas dalam kehidupan riil untuk membicarakan, mengekspresikan dan menunjukkan identitas religius secara terbuka. Barangkali, dalam dunia riil, kebebasan untuk mengekspresikan identitas religius berkurang akibat adanya tekanan dan dominasi agama mayoritas kepada agama minoritas sehingga dengan demikian media sosial Facebook yang menjadi ruang ketiga, digunakan sebagai sarana untuk menutupi kekurangan (lack) tersebut.

Keempat, setiap individu merasa perlu memperformativitaskan identitas religius mereka secara terus-menerus dalam dan melalui Facebook karena barangkali merasa terpenjara dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang memposisikan logika dan rasionalitas sebagai jalan dan sumber pengetahuan dan bukan agama.

Kelima, Menunjukkan identitas religius di Facebook merupakan salah satu bentuk perayaan diri yang perlu dirayakan bersama teman, keluarga dan bersama mereka yang memiliki keyakinan yang sama. Praktek semacam ini menurut Campbell, H. A. (2013:1-2) merupakan sebuah kultur yang terbentuk karena Facebook sebagai media sosial memainkan peran ganda, yakni sebagai ruang untuk berekspresi dan juga sebagai ruang yang boleh digunakan untuk “sakralisasi”. Melalui perayaan diri ini, setiap individu akan semakin termotivasi untuk berkompetisi meraih posisi dalam diskursus sosial dan religius yang mana hal tersebut merupakan sesuatu yang penting yang harus dicapai. Melalui strategi mempercanggih fitur seperti live streaming, publikasi foto dengan fitur editing yang memuaskan, dan fitur video dengan durasi panjang, para pengguna difasilitasi untuk memperformativitiaskan identitas mereka, termasuk identitas religius.

Berdasarkan lima faktor yang dikemukakan di atas maka pertanyaan lanjut dan penting untuk dibahas adalah: Mengapa hal ini lalu menjadi masalah? Atau dalam hal apakah performativitas identitas religius di Facebook ini menimbulkan masalah? Performativitas identitas religius di Facebook menimbulkan masalah karena beberapa hal:

Autentisitas dan Representasi Diri. Van Dijck J. (2013:105-106) menjelaskan problematika performativitas identitas religius mengarah pada autentisitas dan representasi diri. Dalam menampilkan identitas religius, para pengguna Facebook sering tidak sepenuhnya mengekspresikan keyakinan dan praktik pribadi mereka. Masalah lainnya adalah bahwa pada umumnya para pengguna berada pada tekanan untuk menunjukkan versi berbeda yang ideal dari diri mereka sendiri. Tekanan ini menyebabkan performativitas tersebut tidak penuh autentik.

Kontestasi Identitas. Lövheim, (2011: 142-143) memaparkan problematika performativitas identitas religius muncul sebagai akibat dari hadirnya Facebook yang tidak hanya memainkan peran sebagai ruang berekspresi melainkan juga sebagai arena di mana identitas religius yang ditampilkan para pengguna terbuka untuk dikonfrontasikan. Konfrontasi ini dapat menyebabkan konflik antar kelompok yang berbeda keyakinan karena mengarah pada polarisasi.

Masalah ini menurut Hoover, muncul karena Facebook sebagai media sosial mengkonstruksi landscape budaya yang di dalamnya ide-ide religius dapat beredar dan berkembang secara cepat, liar dan tidak terkontrol. Mediascape ini mencakup representasi, narasi, dan simbol-simbol agama yang disebarkan melalui berbagai bentuk media. (Hoover & Clark, 2002:15-16).

Privasi dan Keamanan. Problematika lain yang muncul adalah para pengguna yang memperformativitaskan identitas religius di Facebook sesungguhnya sedang mewujudnyatakan kesempatan yang memberi peluang kepada pihak ketiga untuk disalahgunakan. Data yang dipublikasikan dalam Facebook dapat diakses dan digunakan oleh pihak ketiga sehingga berpotensi menimbulkan ancaman. Dengan kata lain, Facebook tidak menjamin privasi dan keamanan data seseorang benar-benar terjaga (Zuboff, 2019:204-205).

Masalah privasi dan keamanan ini juga merupakan dua hal yang dibahas oleh Hoover. Dalam penjelasannya mengenai Public and Private Spheres, dia menunjukkan bahwa Facebook sebagai media sosial, mempengaruhi para pengguna dan memungkinkan ekspresi religius yang sebelumnya berada pada ruang privat menjadi nampak di ruang publik, ruang virtual. (Hoover, 2006: 45-46).

Perubahan Dinamika Otoritas. Performativitas identitas religius menjadi sebuah masalah dalam ruang Facebook karena ekspresi-ekspresi kesalehan yang dipublikasikan para pengguna mengubah dinamika otoritas religius. Caranya adalah dengan memberikan ruang yang luas kepada suara-suara baru dan alternatif untuk menggunakan media sosial tersebut. Hal ini bertujuan memfasilitasi suara-suara baru tersebut untuk mengganggu dan bahkan merombak struktur otoritas tradisional dalam komunitas religius. (Hoover, 2012:89-90).

Hoover (2006:125-126) juga memaparkan bahwa Facebook sebagai media sosial memberi peluang yang besar terhadap pembentukan komunitas virtual. Melalui pembentukan ini individu dapat dengan mudah membagikan keyakinan, praktik dan pengalaman religius mereka. Facebook juga berpartisipasi untuk menawarkan dukungan sosial dan spiritual kepada para pengguna yang memiliki ketertarikan yang sama melalui penyebaran konten-konten lewat iklan dan postingan populer. Dengan demikian makin jelas terlihat bahwa Facebook tidak hanya memainkan peran sebagai ruang untuk mengekspresikan kesalehan saja melainkan juga sebagai alat untuk menguasai, menguasai data setiap individu termasuk data identitas religius setiap individu.

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *