HASIL DAN PEMBAHASAN
Algoritma
Istilah algoritma merupakan istilah matematika. Istilah ini muncul karena dicetuskan oleh seorang matematikawan Persia, Al-Khwarizmi, yang hidup pada abad ke-9. Istilah ini ditemukan dalam bukunya yang berjudul Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala, yakni sebuah buku ringkas mengenai perhitungan aljabar dan tahap-tahap perhitungan dan penyelesaiannya. Al-Khwarizmi juga memperkenalkan konsep dasar aritmetika yang kemudian menjadi basis pengembangan algoritma modern[10].
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, terlebih khusus matematika dan komputer, algoritma kemudian dimengerti sebagai serangkaian instruksi logis dan terstruktur yang dirancang guna menyelesaikan suatu masalah atau berfungsi sebagai sistim yang mengelola tugas spesifik. Dalam bidang komputer, algoritma digunakan untuk memproses data, menjalankan operasi, atau membuat keputusan.
Robby I Gusti Chandra dan Ahmad Nurcholis, dkk dalam buku mengenai Metaverse menjelaskan algoritma merupakan sebuah konstruksi matematika dengan struktur abstrak, memiliki batasan, efektif dan diberikan sesuai perintah untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan perintah yang diberikan. Secara sederhana, algoritma dapat dimengerti sebagai langkah-langkah atau tahapan-tahapan untuk menyelesaikan masalah dalam bahasa komputer. Algoritma adalah bahasa mesin atau program yang didesain untuk menyelesaikan masalah tertentu, melalui proses atau tahapan yang dianggap efektif oleh pembuatnya[11].
Ruang Gema/Filter Bubble
Ruang Gema merupakan sebuah kondisi komunikasi di mana informasi, ide atau keyakinan diperkuat dan direpetisi dalam suatu konten yang homogen tanpa ada keterbukaan untuk melihat, membaca dan mengalami sudut pandang yang lain. Fenomena ini selalu terjadi dalam media sosial termasuk Instagram melalui algoritma. Akibatnya adalah ruang gema berpotensi membatasi diskusi yang konstruktif, memperkuat polarisasi dan menghalangi pemahaman yang lebih luas.
Filter bubble adalah kondisi di mana seseorang hanya terpapar informasi, pandangan, atau konten yang sesuai dengan preferensi, keyakinan, atau perilaku mereka sebelumnya. Fenomena ini terjadi akibat algoritma yang digunakan oleh platform digital (seperti media sosial, mesin pencari, atau situs berita) untuk menyaring dan menyesuaikan informasi berdasarkan data pengguna. Akibatnya, pengguna terisolasi dari sudut pandang atau informasi alternatif, sehingga membatasi pandangan mereka terhadap dunia. Istilah ini diperkenalkan oleh Eli Pariser dalam bukunya The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You (2011), di mana ia menggambarkan bagaimana algoritma personalisasi membentuk pengalaman online yang sempit dan bias[12].
Bersambung…
