Fri. Mar 13th, 2026
Medsos dan Kecemasan
Medsos dan Kecemasan

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Kehadiran media sosial membawa berbagai dampak. Dampak positif dari kehadiran media sosial adalah selain memperkuat dan memutakhirkan komunikasi, media sosial juga memberi peluang kepada setiap individu untuk berinteraksi dan memperluas relasi sosial secara lebih luas. Namun walaupun media sosial memiliki cukup manfaat terdapat pula beberapa problematika yang kompleks karena mencakup berbagai aspek yang berdampak pada kehidupan personal dan publik.

Penggunaan media sosial yang berdampak negatif terhadap kesehatan mental dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan media tersebut. Maksudnya adalah media sosial digunakan secara berlebihan. Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menyebabkan kecemasan, depresi, frustrasi dan berkurangnya kepercayaan dan penghormatan terhadap diri sendiri. Salah satu fenomena yang memperlihatkan problem tersebut adalah munculnya Fear of Missing Out atau yang seringkali disingkat FOMO. Fenomena ini dimaksudkan kondisi di mana pengguna merasa takut tidak mampu mengikuti tren atau gaya hidup yang sedang viral di media sosial. Ketika pengguna mampu mengikuti tren yang viral di media sosial dirinya akan memperoleh imbalan “suka” atau “komentar” positif dari para pengguna yang lain. Imbalan “suka” dan atau “komentar” positif ini menyebabkan adiksi digital sehingga individu akan selalu tergerak untuk memeriksa akunnya. Bila hal ini tidak terpenuhi maka kecemasan, depresi dan dampak negatif yang memperburuk kesehatan mental dapat dialami.

Dampak di atas dialami dalam realitas hidup peneliti. Hal ini menimbulkan keresahan. Keresahan ini menguat karena tidak hanya didasarkan pada pengalaman pribadi melainkan juga berdasarkan pengakuan sejumlah individu di sekitar peneliti. Terdorong akan hal tersebut maka penelitian ini dirasa layak untuk dilakukan.

Lalu apa sesungguhnya media sosial itu? Burhan Bungin dalam bukunya tentang Netnography (2023) menjelaskan Media Sosial merupakan alat komunikasi yang paling powerfull dalam proses sosial dan interaksi sosial dalam cybercommunity. Media sosial memiliki karakter independen, freedom, egaliter serta kemudahan dalam menggunakannya, dengan teknologi sederhana[1].

Chris Brogan (2010) dalam teorinya tentang media sosial menjelaskan, media sosial adalah seperangkat alat komunikasi dan kolaborasi baru yang memungkinkan terjadinya berbagai jenis interaksi yang sebelumnya tidak tersedia bagi orang awam. Media sosial di masa sekarang sudah menjadi sarana untuk mengekspresikan diri dan juga sebagai sarana untuk berkomunikasi[2].

Media sosial terdiri dari Facebook, X (Twitter), Instagram (IG), YouTube, Whatsapp, Line, WeChat dll. Masing-masing media sosial juga menawarkan fitur-fitur yang berlainan. Tujuannya, selain memanjakan pengguna dalam hal mengakses dan mempublikasikan konten yang menarik, aktivitas untuk berkomunikasi juga dimutakhirkan.

Bagaimana dengan Instagram atau IG? Mengapa IG penting untuk dibicarakan? Instagram penting untuk dibicarakan karena media sosial ini merupakan salah satu jenis platform media yang memiliki cukup banyak pengguna dan juga memiliki pengaruh yang sangat besar terutama di generasi muda. Menurut laporan We Are Social[3], jumlah pengguna Instagram global mencapai 1,63 miliar per April 2023. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 12,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Data terbaru menyebutkan bahwa pengguna Instagram di Indonesia per Februari 2024 mencapai 88 juta 861 ribu pengguna. Mayoritas pengguna Instagram di Indonesia adalah wanita dengan proporsi 54.8% dengan demografis umur pengguna Instagram di Indonesia terbesar yaitu umur 25 hingga 34 sebesar 35 juta 400 ribu orang. Selain itu, jumlah perbedaan berdasarkan gender pria dan wanita ada pada range umur 18 hingga 24 tahun. Wanita lebih banyak 12,300,000 orang. Sedangkan 41.161.000 penggunanya berusia 35 tahun ke atas.

Keberhasilan Instagram sebagai aplikasi terpopuler juga didorong oleh kualitas konten yang ditawarkan. Dengan menggunakan fitur-fitur seperti Instagram Stories, Reels, dan IGTV, pengguna dapat mengeksplorasi konten yang dibagikan oleh orang-orang di sekitar mereka, selebritas, dan akun bisnis yang terkait dengan minat mereka. Instagram juga telah menjadi platform yang populer bagi para influencer dan merek untuk membangun audiens dan mempromosikan produk atau jasa mereka. Melalui fitur fitur seperti tagging dan hashtag, pengguna dapat meningkatkan visibilitas postingan mereka dan menjangkau audiens yang lebih luas.

Selain menawarkan hal-hal yang menguntungkan pengguna, IG juga menawarkan hal-hal yang lain yang sifatnya memuaskan hasrat seperti menyajikan fitur editing video dan gambar yang dapat diminati generasi muda. Instagram dengan kata lain berusaha untuk menciptakan adiksi bagi penggunanya sehingga mereka benar-benar tidak dapat lepas dari cengkeraman media sosial yang satu ini.

Fitur imbalan “suka” atau “komentar” positif merupakan salah satu strategi Instagram dalam membuat para pengguna untuk tetap bertahan menggunakan media sosial ini. Di samping itu terdapat fitur-fitur lain yang juga memiliki tujuan yang sama seperti algoritma, video dan foto editor yang bertujuan memperindah publikasi foto dan video, penggunaan hashtag agar postingan tertentu berpeluang untuk viral dan fitur “adsense” (monetisasi) yang memungkinkan pengguna memperoleh penghasilan (uang) tambahan melalui konten yang dipublikasikan. Strategi semacam ini memperlihatkan bahwa terdapat sebuah sistim yang sedang beroperasi oleh dan dalam Instagram yang dikenal dengan “ruang gema” atau echo chamber. Sistim semacam ini bertujuan untuk mengatur dan mengontrol setiap individu agar secara rutin menggunakan Instagram demi memperoleh keuntungan yakni hasrat yang terpuaskan, terpuaskan karena menemukan identitas, terpuaskan karena dapat merepresentasikan diri dan mendapatkan pengakuan atau validasi dari pengguna Instagram yang lain.

Di sisi lain, melalui ruang gema, Instagram menyajikan informasi tidak hanya berdasarkan ketertarikan pengguna.  Sistim penyajian informasi ini diatur sedemikian rupa sehingga para pengguna tidak dimungkinkan untuk dapat secara bebas mengakses informasi yang lain yang tidak sesuai pilihannya. Sistim yang dibentuk secara terstruktur dan rapih ini berhasil menempatkan para pengguna dalam sebuah lingkaran pencarian informasi yang tertutup. Melalui lingkaran tersebut para pengguna menjadi individu yang dapat dengan mudah menerima informasi searah. Inilah yang merupakan tujuan dari sistim tersebut. Melalui sistim tersebut individu dikuasai, dikontrol agar tetap mengarahkan perhatiannya kepada apa yang ditawarkan. Ia terkurung dalam sebuah terali besi informasi yang kasat mata yang tidak memungkinkan dirinya untuk keluar, mengalami realitas yang lain yang berbeda dengan apa yang ditawarkan dalam sistim.

Fenomena konstruksi identitas dalam ruang virtual bukanlah sebuah fenomena baru. Telah ada beberapa penelitian sebelumnya yang digunakan sebagai referensi untuk menganalisis. Rama Kertamukti, Heru Nugroho dan S. Bayu Wahyono, dalam penelitiannya mengenai Kontruksi ldentitas melalui Stories Highlight Instagram Kalangan Kelas Menengah, menjelaskan bahwa media sosial Instagram ini merupakan sebuah sarana untuk mengkonstruksi identitas. Hal ini nampak dalam setiap postingan stories IG yang merupakan sarana untuk memproduksi maupun konsumsi. Sebab Instagram sebagai media visual mampu menghadirkan simbol-simbol sebagai alat memproduksi makna dari suatu identitas yang ingin disampaikan[4]. Identitas sosial dengan demikian dapat dikonstruksi oleh subyek yang mempublikasikan konten karena hanya dialah yang dapat mendefinisikan dirinya sendiri. Menurut mereka, menampilkan diri di ruang stories highlight tidak hanya sebagai bagian ingin diterima secara sosial, tetapi juga subyek tersebut memaknai ini sebagai sebuah perayaan rekreatif sekaligus mempertegas perbedaan kelas sosialnya.

Identitas sosial yang dijelaskan oleh Kertamukti dkk., memiliki kesinambungan dengan pemikiran Baron and Branscombe (2012:116) yang menjelaskan bahwa “Setiap orang berusaha membangun identitas sosial (social Identity), sebuah representasi diri yang membantu mengkonseptualisasikan dan mengevaluasi diri, sehingga mengetahui siapa diri (self) dan siapa orang lain (others).” Representasi diri ini dilakukan dalam ruang-ruang, tempat di mana setiap orang berada. Dalam konteks penggunaan media sosial yang dalam hal ini IG, setiap orang juga dapat mengkonstruksi identitas sosial mereka karena IG sendiri adalah sebuah ruang yang terbuka untuk menampilkan diri[5].

Penelitian lainnya adalah dari Christanti Maria Febiana dan Cahyani Intan Putri tahun 2022, mengenai Instagram: Konstruksi Identitas Budaya Virtual melalui Unggahan Foto Para Influencer Indonesia. Hasil penelitiannya memperlihatkan bahwa IG tidak hanya sekedar sarana atau medium untuk saling bertukar pesan, foto atau gambar, ide atau musik, melainkan IG berperan penting sebagai media yang mengungkap identitas budaya setiap individu dalam ruang virtual. Influencer sebagai pengguna aktif Instagram dengan banyak pengikut mengalami proses ini, karena realitas diri yang nyata terpisah dalam ruang virtual yang kemudian membentuk identitas budaya baru. Menurut Christianti dan Cahyani, terdapat tiga identitas budaya virtual yang dikonstruksi oleh para influencer antara lain kelas sosial ekonomi, agama dan keluarga[6].

Mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap kecemasan Melani Nur Cahya, Widia Ningsih dan Ayu Lestari dalam penelitian mengenai Dampak Media Sosial terhadap Kesejahteraan Psikologis Remaja: Tinjauan Pengaruh Penggunaan Media Sosial Pada Kecemasan dan Depresi Remaja menjelaskan bertambahnya intensitas penggunaan media sosial dapat mengakibatkan remaja berisiko untuk mengalami gangguan kesehatan jiwa yang lebih kompleks karena mereka mencoba untuk mengkompensasi permasalahan dalam kehidupan yang dapat menimbulkan ketidakefektifan performa peran individu dalam kehidupan sosial mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam menimbulkan gejala depresi hingga ide bunuh diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan usia muda (14,8%) memiliki kemungkinan untuk mengalami depresi lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa (8,4%) (Junior, Mental Emotional Symptoms’determin nants Of High, 2017). Hal ini terjadi karena masa remaja merupakan masa yang penuh emosi dan ketidakseimbangan, sehingga seringkali remaja belum dapat mengatur fluktuasi suasana hati yang disebabkan oleh stressor yang ada[7].

 

Bersambung…

 

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *