Wed. Mar 11th, 2026
Medsos dan Kecemasan
Medsos dan Kecemasan

Ruang Gema dan Konstruksi Identitas dalam Teori Assemblage

Menggunakan teori assemblage dalam melihat konstruksi identitas akibat pengaruh ruang gema, sangat memungkinkan. Menurut teori ini, identitas yang dimengerti merupakan hasil interaksi yang sangat dinamis antara berbagai elemen majemuk antara manusia, teknologi dan konteks sosial-budaya. Interaksi ini menciptakan hubungan yang erat dan tidak terpisahkan sehingga membentuk realitas. Keterhubungan antara satu elemen dan elemen yang lain menghasilkan efek tertentu, yang salah satunya adalah konstruksi identitas yang akan selalu berubah, cair dan tidak menetap.

Berdasarkan teori assemblage, identitas bukan merupakan suatu entitas yang tetap, melainkan proses yang terkonstruksi melalui interaksi antara manusia, teknologi, narasi, dan afek. Dengan kata lain identitas sangat mungkin berubah karena keterhubungan antara elemen-elemen ini juga selalu bersifat cair dan tidak menetap[14]. Eksistensi ruang gema dalam Instagram merupakan hasil teknologi yang didasarkan pada pengalaman manusia dan yang dipadukan dengan narasi dan afek. Tujuannya adalah memberi peluang dan kemungkinan kepada subyek pengguna untuk tidak hanya mengkonsumsi informasi yang sesuai dengan minat dan ketertarikannya namun juga berpeluang untuk mengkonstruksi identitas.

ES (38) dalam wawancara tertutup mengungkapkan hal yang serupa. Dengan menggunakan metode netnografi, peneliti memasuki area yang tertutup untuk menganalisis, dan melihat sejauh mana informan ini menggunakan instagram dalam kesehariannya. Dari hasil observasi mengenai konten, interaksi, keterlibatan dalam cybercommunity, dan juga publikasi konten, peneliti menemukan ada kesamaan pemahaman antara teori assemblage dengan pengalaman informan. “Saya setuju bila mengatakan bahwa ruang gema mengkonstruksi identitas seseorang. Sebab konten-konten yang ditawarkan melalui algoritma sangat mempengaruhi dan kemudian membentuk persepsi, pemikiran, tindakan dan kemudian membentuk identitasnya sebagai person”[15].

AW (25) menjelaskan, ruang gema/filter bubble sangat berperan dalam menawarkan identitas serta mengkonstruksi identitas. “Ruang gema Instagram memberi andil untuk mengkonstruksi identitas seseorang. Seseorang dapat menemukan dan membentuk identitasnya ketika dirinya terpapar informasi searah melalui konten-konten yang muncul dalam algoritmanya. Konten-konten yang ditawarkan menjadi sumber informasi dan sumbangan pemikiran untuk menemukan dan memutuskan seperti apa dirinya”[16].

LR (35) mengungkapkan hal yang sama. “Saya merasa bahwa ruang gema sangat berpengaruh mengkonstruksi identitas seseorang, sebab apa yang diakses dan dikonsumsi memberi pengaruh terhadap pemikiran seseorang, mengubah cara ia berpikir, dan kemudian sampai pada tahap di mana ia memutuskan mau menjadi seperti apa. Walaupun identitas merupakan sesuatu yang cair, namun ruang gema dapat menjadi sarana setiap orang menemukan identitasnya”[17]

Berdasarkan jawaban para informan, maka dengan kata lain, ada pengakuan dan persetujuan bahwa ruang gema instagram, dapat mengkonstruksi identitas seseorang. Hasil wawancara dan juga observasi yang dilakukan sejalan dengan teori assemblage. Di mana interaksi antara elemen yakni manusia, teknologi, narasi dan afek, sangat memungkinkan untuk mengkonstruksi identitas seseorang melalui konten yang dikonsumsi dan juga melalui sesuatu yang dia publikasikan. Oleh karena elemen-elemen tersebut berada dalam keterikatan, maka realitas lain yang dalam hal ini konstruksi identitas terjadi. Identitas dalam ruang gema terbentuk melalui negosiasi terus-menerus antara elemen-elemen ini, menghasilkan konstruksi yang sering kali homogen sesuai konten yang dikonsumsi atau berdasarkan interaksi intensif dan keterkaitan antara kesamaan keyakinan pengguna dengan norma yang ditawarkan di media sosial secara khusus Instagram dan juga norma dalam kelompok (cybercommunity).

Teori assemblage juga menjelaskan bahwa identitas yang terkonstruksi dalam ruang gema mengalami dua proses utama yakni territorialization dan reterritorialiazation. Yang dimaksudkan dengan territorialization yakni identitas pengguna yang terkonstruksi terjadi melalui adanya afiliasi dengan narasi dan norma yang definitif dalam ruang gema. Misalnya pengguna yang tertarik dengan konten yang bersifat religious akan selalu mengadopsi simbol, jargon, quotes yang berhubungan dengan keyakinannya.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan reterritorialization adalah, identitas pengguna terus-menerus disesuaikan dengan alur atau gerak perubahaan dinamika dalam ruang gema seperti gaya hidup yang baru atau adanya transisi wacana dominan. Sebagai contoh, di ruang gema costplay, pengguna yang awalnya hanya penonton mungkin mulai membentuk identitas sebagai costplay enthusiast melalui partisipasi aktif dalam diskusi dan pengadopsian tren yang dipromosikan oleh komunitas[18].

Identitas yang terkonstruksi dalam teori assemblage merupakan identitas yang cair yang tidak kaku dan permanen. Oleh karena itu sistim atau pengaturan mengenai informasi dan konten diharapkan lebih terbuka dan luas. Permasalahannya adalah ruang gema tidak menyediakan kemungkinan bagi pengguna untuk mengakses informasi atau konten lain yang berpotensi untuk mengkonstruksi identitas yang cair. Pengguna terpapar informasi searah yang sesuai dengan pilihan atau ketertarikannya. Akibatnya identitas yang terkonstruksi menjadi kaku dan masalah seperti inilah yang dihindari dalam teori assemblage. Identitas yang kaku, yang terkonstruksi menjadi masalah dalam teori assemblage karena Deleuze dan Guatarri menggunakan konsep ini untuk berbicara lebih dalam mengenai becoming.

 

Ruang Gema dan Reproduksi Anxiety dalam Teori Assemblage

Berbicara soal reproduksi anxiety akibat beroperasinya ruang gema dalam Instagram dengan menggunakan teori assemblage juga sangat memungkinkan. Eksistensi ruang gema tidak dapat dilepaskan dari koneksi atau keterhubungan elemen. Keterhubungan itu menciptakan afek atau realitas yang lain di mana selain berpotensi mengkonstruksi identitas, ruang gema juga berpotensi mereproduksi anxiety.

Setiap orang memiliki beragam anxiety pada dirinya. Melalui ruang gema Instagram, para pengguna juga dimungkinkan untuk mengalami hal ini. Anxiety direproduksi dengan menawarkan konten-konten yang sesuai hasrat, minat dan ketertarikan pengguna. Pengguna akan selalu diarahkan untuk mengakses atau mengkonsumsi konten-konten tersebut.  Melalui konten dan narasi, ruang gema menciptakan lingkungan di mana semua informasi atau narasi tertentu diperkuat secara terus-menerus tanpa adanya pandangan alternatif. Dalam konteks ini, informasi yang memicu kecemasan dapat menjadi lebih intens karena pengulangan, penegasan, dan polarisasi dalam ruang tersebut. Hal ini memicu keterlibatan emosional, termasuk rasa cemas atau takut[19].

ES (38) mengungkapkan “Instagram melalui ruang gema sudah pasti mereproduksi kecemasan atau anxiety. Kecemasan itu timbul sebagai reaksi atas apa yang hendak kita capai atau peroleh dalam dan melalui instagram. Ada ekspektasi ketika mengakses suatu konten atau mempublikasikan suatu konten. Ekspektasi ini akan terpuaskan ketika terjawab. Namun bila tidak maka akan menimbulkan kecemasan”[20].

AW (25) menjelaskan, “Saya setuju jika mengatakan bahwa ruang gema IG mereproduksi anxiety atau kecemasan. Konten-konten yang dikonsumsi dan dipublikasi sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan interaksi pengguna agar lebih rutin menggunakan IG. Namun meningkatnya interaksi tersebut berpengaruh pada meningkatnya kecemasan juga karena orang akan selalu merasa cemas apabila tidak mengakses konten yang sama. Orang juga akan merasa cemas apabila konten yang ia bagikan tidak mendapatkan validasi. Suka atau tidak, setiap orang butuh pengakuan atau validasi melalui konten”[21].

LR (33) menjelaskan hal yang sama namun lebih mengerucut pada sisi psikologis. “Ya. Ruang gema sangat besar mereproduksi kecemasan. Konten yang dikonsumsi di sana, yang sesuai keinginan kita, juga mengandung wacana atau isu yang dapat menyebabkan kecemasan. Aspek psikologis kita menjadi sasaran dan objek yang mudah untuk ‘diserang’. Melalui ruang gema IG tidak hanya mengontrol tetapi juga memanipulasi psikologis”[22].

Dalam teori assemblage, ada beberapa kata kunci yang perlu dipahami sehubungan dengan bagaimana ruang gema mereproduksi anxiety. Pertama adalah heterogenitas. Pada umumnya setiap assemblage terdiri dari elemen yang berbeda, seperti manusia, teknologi, ide, atau praktik sosial. Elemen-elemen ini selalu berada pada keterhubungan yang erat dan yang saling mempengaruhi. Kedua, relasionalitas. Perlu interaksi antar elemen agar menciptakan hasil. Ketiga, emergensi. Adanya sifat atau pola baru yang muncul dari hubungan antar elemen dan bukan dari elemen individu saja. Keempat, keterpecahan atau ketahanan. Assemblage dapat berubah, terpecah, atau di-reset tergantung pada dinamika hubungan internalnya. Istilah dinamis menjadi kata kunci[23].

Berdasarkan wawancara dengan para informan, maka ada beberapa hal yang dapat dilihat sebagai contoh bagaimana ruang gema/filter bubble mereproduksi anxiety. Konten negatif yang diperkuat. Ruang gema sering memperbesar konten yang memicu emosi negatif, seperti ketakutan, ketidakpastian, atau ancaman, karena konten semacam itu lebih menarik perhatian. Akibatnya, pengguna merasa lebih terancam atau cemas. Sebagai contoh misalnya, diskusi tentang senjata biologis, ruang gema akan cenderung menampilkan dan menyampaikan narasi “kehancuran atau kiamat umat manusia” sehingga hal ini dapat membuat pengguna merasa tidak berdaya dan lebih cemas. Selanjutnya, polarisasi yang menyebabkan amplifikasi ketakutan. Polarisasi dalam ruang gema menciptakan narasi “kita vs mereka,” yang dapat memicu ketakutan dan anxiety akan ancaman dari pihak luar. Hal ini memperkuat rasa tidak aman dan collective anxiety. Sebagai contoh, dalam politik misalnya, ruang gema dapat memperkuat narasi bahwa suatu kelompok tertentu adalah ancaman, yang memperburuk kecemasan terhadap keamanan sosial atau ekonomi[24].

Hal lainnya adalah meningkatnya perbandingan sosial. Ruang gema yang berfokus pada kesuksesan, pencapaian, atau standar hidup tertentu dapat memicu anxiety melalui perbandingan sosial. Para pengguna akan selalu merasa cemas ketika hidupnya belum sesuai dengan standar yang ditawarkan dalam ruang gema. Misalnya, komunitas yang menampilkan gaya hidup ideal di media sosial, sudah pasti akan mempengaruhi pengguna. Pengguna akan selalu merasa tidak cukup baik atau gagal memenuhi standar tersebut. Hal ini berpotensi besar mereproduksi anxiety[25].

Jelas bahwa dalam teori assemblage ruang gema dapat mereproduksi anxiety karena ruang gema sendiri adalah sebuah assemblage di mana data pengguna, interaksi sosial, dan konten membentuk jaringan kompleks yang memperkuat pandangan dan emosi tertentu, termasuk anxiety.

 

Kesimpulan

Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan, ruang gema pada Instagram, jika dilihat melalui teori assemblage, membentuk identitas sebagai proses relasional dan dinamis. Identitas tidak hanya dipengaruhi oleh preferensi individu, tetapi juga oleh algoritma, narasi komunitas, dan afek kolektif yang ada di ruang gema. Dengan memahami identitas sebagai assemblage, kita dapat mengeksplorasi bagaimana dinamika ruang gema menciptakan konstruksi identitas yang terus berkembang dan sering kali homogen dengan norma kelompok. Ruang gema juga memberi andil terhadap reproduksi anxiety dalam diri para pengguna melalui konten, narasi dan repetisi informasi sesuai ketertarikan para pengguna.

 

Referensi

Al-Khwarizmi. (1989). The Algebra of Mohammed ibn Musa. Halaman 1-5.

Baron, R. A., & Branscombe, N. R. (2012). Social Psychology. Boston: Pearson.

Boyd, D. (2014). It’s Complicated: The Social Lives of Networked Teens. Yale University Press. Hlm. 102-105.

Brogan, Chris. (2010) Sosial Media 101: Tactics and Tips to Develop your Business Online: Jhon Wiley &Sons.

Bungin Burhan. (2023). Netnography. Social Media Research Procedure, Big Data & Cybercommunity, Kritik terhadap Kozinets. Jakarta: Kencana.

Christanti Maria Febiana dan  Cahyani Intan Putri. (2022). “Instagram: Konstruksi Identitas Budaya Virtual melalui Unggahan Foto Para Influencer Indonesia”. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni tahun 2022. https://api.semanticscholar.org/CorpusID:248823992.

Deleuze, G., & Guattari, F. (1987). A Thousand Plateaus: Capitalism and Schizophrenia. University of Minnesota Press.

Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations.

Kertamukti Rama, Nugroho Heru, Wahyono S. Bayu. (2019). Kontruksi ldentitas melalui Stories Highlight Instagram Kalangan Kelas Menengah. Jurnal ASPIKOM, 4 (1). pp. 26-44.

Melani Nur Cahya, Widia Ningsih dan Ayu Lestari. (2023). “Dampak Media Sosial terhadap Kesejahteraan Psikologis Remaja: Tinjauan Pengaruh Penggunaan Media Sosial Pada Kecemasan dan Depresi Remaja”. Jurnal. Sosial dan Teknologi. Tahun 2023. Hlm., 705.

Pariser, E. (2011). The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Penguin Press.

Robby I Gusti Chandra. (2023). Metaverse. Jakarta: Kompas Gramedia.

https://upgraded.id/data-jumlah-pengguna-instagram-di-indonesia. Diakses pada November 2024. Pukul 10.00  WIB.

Wawancara ES, 12 November 2024, di Yogyakarta.

Wawancara AW, 16 November 2024, di Yogyakarta.

Wawancara LR, 18 Oktober 2024, di Yogyakarta.

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *