b. Wacana Universitas (Gereja sebagai Sistim Produksi Pengetahuan Moral)
Dalam wacana universitas, posisi S2 atau pengetahuan moral-dogmatik berada pada kiri atas. Sedangkan posisi “a” atau hasil atau “rasa bersalah” sebagai suatu bentuk objektifikasi berada pada kanan atas. Posisi S1 atau “tuan” berada pada kiri bawah dan posisi “$” atau “subjek terbelah” berada pada kanan bawah. Dengan demikian maka struktur dari wacana universitas dapat digambarkan sebagai berikut:
S2 a
S1 $
Wacana ini memposisikan praktik tobat sebagai bagian dari sistem indoktrinasi atau pedagogi moral. Di sini, teologi moral dan kanon hukum digunakan untuk membentuk subjek secara sistemik. Di sisi lain, wacana ini merepresentasikan momen saat pengetahuan teologis atau pastoral menjadi sistem pembenaran teologis atas praktik tobat. Subjek terbelah “$” atau “subjek split” dijadikan objek studi atau penanganan pastoral (dari segi moral-teologis). Dalam struktur ini, dosa menjadi data, dan peniten mengalami “pengobjekan” melalui penilaian moral-pastoral.[16]
c. Wacana Histeris (Peniten Mempertanyakan Dosa dan Otoritas)
Dalam wacana histeris, posisi kiri atas ditempati oleh “$” atau subjek terbelah atau subjek split. Posisi S1 atau “Tuan” berada pada kanan atas. Posisi kanan bawah ditempati oleh S2 atau pengetahuan moral dogmatik dan posisi kiri bawah ditempati oleh objek “a” atau hasil atau “rasa bersalah”. Berdasarkan deskripsi ini maka struktur yang terbentuk dalam wacana histeris adalah sebagai berikut:
$ S1
a S2
Di sini, subjek terbelah atau subjek split atau “$” (peniten) mempertanyakan apa yang salah dalam dirinya dan mencari makna dosa serta pengampunan. Imam (sebagai S₁) diminta memberi jawaban absolut, meski tak pernah memadai. Ini bisa menjelaskan dosa yang diulang-ulang: pengakuan sebagai usaha terus-menerus untuk memuaskan wacana yang tak selesai. Jika subjek berada dalam wacana histeris, maka ia menginterogasi otoritas. Dalam konteks ini, umat mempertanyakan kekakuan pengakuan dosa, atau mengalami kecemasan karena tidak pernah cukup suci. Subjek histeris adalah subjek yang membentuk diri melalui pertanyaan, bukan ketaatan, dan memunculkan potensi dekonstruksi teologi tobat yang normatif.[17]
Bersambung….
