Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Struktur Wacana Lacanian dan Posisi Subjek Peniten
Struktur dari teori empat wacana Lacan memberikan kerangka teoretis untuk memahami dinamika kekuasaan, subyektivitas, dan produksi makna dalam berbagai praktik sosial, termasuk praktik sakramen tobat dalam Gereja Katolik. Dalam konteks ini, wacana bukan sekadar komunikasi verbal, tetapi struktur relasi simbolik antara subjek, pengetahuan, otoritas, dan kebenaran. Dengan menggunakan teori ini, Sakramen Tobat dapat dibaca sebagai tempat di mana subjek dibentuk melalui tata simbolik pengakuan, peneguhan, dan pengampunan. Selain membedah wacana seperti apa yang terbentuk, teori ini juga dapat digunakan untuk melihat pada posisi mana setiap unsur berada.
Ada 4 (empat) elemen utama yang saya temukan dan cocok dengan teori empat wacana Lacan yakni: agent, truth, liyan dan product. Pada kiri atas ditempati oleh agent. Posisi kanan atas ditempati oleh liyan, posisi kiri bawah ditempati oleh truth dan posisi kanan bawah ditempati oleh product. Agent adalah pihak yang berinisiatif untuk memulai sebuah wacana. Truth adalah pihak yang mendorong agent; liyan adalah pihak yang menjalankan apa yang dikehendaki oleh agent; dan product adalah efek dari seluruh wacana. Keempat faktor tersebut disimbolkan dengan “S1”, “S2”, “$”, dan “a” yang kemudian dalam dioperasionalkan dalam wacana tuan, wacana histeris, wacana universitas dan wacana analitis. Dalam hubungannya dengan sakramen tobat, struktur empat wacana adalah sebagai berikut:
| Wacana | Struktur Simbolik | Karakteristik |
| Tuan (Master) | Otoritas yang menghasilkan pengetahuan | Dominasi, dogma, ajaran, doktrin. |
| Universitas | Pengetahuan melayani otoritas | Institusionalisasi kebenaran |
| Histeria | Subjek mempertanyakan otoritas | Kritis, pencarian makna |
| Analis | Objek “a” menempati posisi dominan | Transfigurasi subjek, interpretasi |
a. Wacana Tuan (Sakramen Tobat sebagai Tata Kuasa Gereja)
Dalam wacana Tuan (Master), posisi Tuan atau S1 atau Master Signifier merupakan penanda utama yang memiliki otoritas tertinggi. Ia berada pada kiri atas. Dalam praktek sakramen tobat, S1 atau master signifier adalah Imam, Dogma, ajaran atau doktrin. Posisi S2 mewakili pengetahuan moral atau kanonik dan berada pada kanan atas. Posisi “$” atau S terbelah atau “subjek split” adalah peniten atau umat yang berada pada kiri bawah, dan objek “a” atau hasil diwakilkan oleh “guilt” atau rasa bersalah/jouissance yang berada pada kanan bawah. Dengan demikian, struktur umum yang terbentuk adalah sebagai berikut:
S1 S2
$ a
Gambaran di atas menunjukkan bahwa imam berperan sebagai penanda utama (S1) yang mewakili otoritas ilahi dan institusional. Ia menyampaikan kebenaran moral (S2), dan subjek peniten adalah subjek yang terbelah ($) yang tunduk pada struktur ini. Produksi simbolik dari wacana ini adalah “pengampunan dosa”, tapi juga menyisakan jouissance/kenikmatan dalam pengakuan dan rasa bersalah (a).[15]
Subjek yang terbentuk adalah subjek yang tidak bebas, melainkan subjek yang “dipaksa” atau “dipanggil untuk mengaku” dalam bahasa hukum dan norma (S₁). Ini membentuk subjek yang tunduk, bukan karena iman personal, tetapi karena struktur kuasa simbolik.
Bersambung….
