Candu yang Tak Terasa
Ada momen-momen di mana saya benar-benar ingin berhenti. Saya mencoba membatasi waktu bermain ponsel, menonaktifkan notifikasi, bahkan menghapus beberapa aplikasi. Tapi selalu saja ada alasan untuk kembali: satu pesan, satu kabar, satu video yang “penting.” Candu ini tidak datang seperti racun yang mematikan, tetapi seperti pelukan yang hangat. Ia menenangkan, namun diam-diam menelan kesadaran.
Saya mulai sadar bahwa candu ini bukan hanya tentang keinginan untuk “terhubung,” melainkan tentang ketakutan akan kehilangan. Dalam dunia digital, absence terasa seperti kematian sosial. Jika saya tidak hadir di sana, seolah-olah saya lenyap dari dunia. Maka saya terus mengisi ruang itu dengan memposting, like, comment, scroll layaknya sebuah ritual eksistensial tanpa ujung.
Yang tidak saya sadari adalah saya terjerumus dalam permainan antara need, demand, dan desire. Kebutuhan (need) sederhana: ingin tahu kabar, ingin berbagi. Namun ia segera berubah menjadi demand permintaan untuk diperhatikan, untuk disayai. Dan di balik itu, bersembunyi desire, hasrat yang tak pernah terpenuhi. Saya ingin sesuatu, tapi saya sendiri tidak tahu apa. Yang saya tahu hanyalah: saya tidak bisa berhenti.
Tubuh yang Hilang
Satu hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana tubuh ini ikut berubah. Saya duduk lebih lama, mata saya cepat lelah, tidur terganggu. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan yang hilang adalah rasa hadir di tubuh sendiri. Saya lebih sering merasa ada di layar daripada di dunia nyata.
Layar menjadi cermin baru, tempat tubuh ini direkonstruksi dalam citra yang terpilih: senyum terbaik, sudut cahaya paling lembut, atau lirik lagu yang tampak “autentik.” Namun di balik itu, tubuh yang nyata dengan napas, keringat, dan kelelahan semakin jauh. Saya mulai memahami paradoks digital: kita hadir di mana-mana, tapi jarang benar-benar ada di satu tempat.
Dalam essainya tentang disciplinary society, Foucault mengatakan bahwa tubuh dikontrol oleh institusi sekolah, rumah sakit, penjara. Kini saya hidup dalam versi baru dari itu: self-discipline through visibility. Saya menundukkan diri bukan karena dipaksa, tetapi karena ingin dilihat. Saya menjadi penjaga sekaligus tahanan dalam panoptikon digital yang saya bangun sendiri.
Ketika Saya Menyadarinya
Suatu malam, saya menatap layar tanpa alasan. Tidak ada pesan baru, tidak ada notifikasi penting. Hanya cahaya biru yang menembus gelap kamar. Saat itu, sesuatu terasa kosong bukan karena tidak ada yang saya lihat, tetapi karena saya menyadari bahwa sayalah yang sedang dilihat.
Saya adalah subjek yang dijadikan objek, bukan oleh seseorang, tapi oleh sistem. Saya menyadari bagaimana setiap klik, setiap gulir, setiap pandangan kecil adalah bagian dari ekonomi perhatian. Saya tidak hanya menatap, melainkan saya ditatap balik oleh algoritma yang mencatat setiap detik tatapan itu seakan-akan hendak menegaskan bahwa pandangan yang mengatur kita bukan berasal dari individu, melainkan dari struktur sosial dan simbolik yang kita hidupi. Dan dalam dunia digital, struktur itu memiliki wajah baru: algoritma sebagai bentuk Yang Lain yang paling mutakhir dan yang menariknya lagi bentuk yang lain itu terlalu mengenal diri saya.
Perlahan Belajar Lepas
Kini saya berusaha menata ulang hubungan dengan media sosial. Saya tidak ingin membencinya, karena di sana juga ada keindahan: musik, tawa, inspirasi, bahkan pertemanan yang tulus. Tapi saya juga tidak ingin lagi diperintah oleh algoritma yang tak tampak. Saya belajar menatap layar dengan kesadaran baru: bahwa setiap kali saya menggulir, saya juga sedang ditulis ulang oleh sistem tanda.
Saya mulai kembali pada hal-hal yang lebih sederhana: membaca buku dengan pelan, berjalan tanpa kamera, mendengarkan lagu tanpa membagikannya. Saya belajar menikmati keheningan sebagai bentuk perlawanan kecil.
Dan di momen-momen itu, saya merasa sedikit lebih bebas bukan karena telah keluar dari dunia digital, tapi karena kini saya tahu di mana batas antara diri saya dan dunia yang mencoba membentuk saya.
Kini, setelah dua tahun berlalu sejak muncul kesadaran tentang kecanduan itu, saya masih kadang tergoda. Tapi setiap kali jempol ini siap menggulir tanpa sadar, saya ingat: kekuasaan yang paling kuat adalah yang membuat kita mencintai rantainya, dan kesadaran yang paling sejati bukanlah tentang melarikan diri, melainkan mengenali rantai itu, lalu memilih, dengan lembut, kapan ingin melepaskannya.
