Wed. Mar 11th, 2026
Candu Medsos
Candu Medsos Sumber Foto: http://antaleem.com
Candu Medsos
Candu Medsos
Sumber Foto: http://antaleem.com

Saya tidak ingat dengan pasti kapan semuanya dimulai, tetapi tahun 2022 menjadi titik di mana saya benar-benar jatuh ke dalam dunia yang bercahaya itu, dunia media sosial. Awalnya, saya hanya menganggapnya sebagai sarana hiburan, ruang berbagi, dan tempat menemukan kabar teman lama. Namun, seperti kabut yang perlahan naik di atas laut, sesuatu yang samar-samar mulai menyelimuti kesadaran: saya tidak lagi menggunakan media sosial, melainkan media sosiallah yang mulai menggunakan saya.

Pagi hari, sebelum sempat menatap wajah di cermin, saya menatap layar ponsel. Di sana, dunia tampak hidup penuh warna, suara, dan ritme yang tak berhenti. Namun di balik itu, saya mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: keheningan batin. Setiap notifikasi menjadi semacam panggilan, bukan sekadar tanda bahwa ada pesan baru, melainkan seruan halus dari sesuatu yang lebih besar: Yang Lain (the Other).

Lacan mengatakan bahwa manusia dibentuk oleh bahasa dan oleh pandangan Yang Lain. Saya mulai memahami maksudnya setelah bertahun-tahun tanpa sadar hidup di bawah sorotan yang tak terlihat. Setiap kali saya memposting sesuatu entah foto, lagu, atau opini, saya berharap ada yang “menyukai”-nya. Dalam ketukan kecil tanda “like” itu, ada getaran halus dari pengsayaan, seolah-olah dunia berkata: saya melihatmu. Dan dari sanalah candu itu tumbuh: bukan pada konten itu sendiri, melainkan pada rasa untuk ingin disukai.

Hasrat yang Tak Pernah Puas

Awalnya sederhana. Saya ingin membagikan sesuatu yang indah: lagu yang saya nyanyikan, pemandangan sore, atau kutipan yang terasa bijak. Tapi kemudian, saya mulai menghitung berapa orang yang melihat, siapa yang memberi komentar, siapa yang diam. Ada semacam metrik emosional yang terbentuk tanpa disadari: validasi menjadi bahan bakar dari eksistensi saya.

Lacan pernah menulis bahwa hasrat manusia bukanlah hasrat terhadap objek tertentu, melainkan hasrat untuk hasrat Yang Lain. Kita menginginkan apa yang diinginkan orang lain, dan ingin menjadi objek dari keinginan mereka. Media sosial menjelma menjadi laboratorium sempurna bagi teori ini. Setiap kali saya menatap notifikasi, saya seperti menatap cermin Lacanian “mirror stage” yang tak berakhir. Saya melihat diriku, tapi dalam versi yang telah direkayasa, dikurasi, dan disetujui oleh algoritma.

Ketika saya mendapat banyak “like,” saya merasa hidup. Tapi ketika postingan sepi, saya merasa tidak berarti. Dan di situlah jebakannya bekerja: saya mulai menciptakan diri untuk dilihat, bukan untuk menjadi. Saya belajar bahwa setiap gambar, kata, atau video bukan lagi ekspresi bebas, melainkan bagian dari strategi tak sadar untuk bertahan di dunia simbolik yang penuh penilaian.

Pengetahuan Sebagai Ilusi Kekuasaan

Saya juga menggunakan media sosial untuk belajar. YouTube, Instagram, dan Twitter menjadi sumber pengetahuan yang tak ada habisnya. Dalam satu hari saya bisa tahu teori Foucault tentang discipline, esai Derrida tentang différance, dan video analisis musik dari kanal-kanal independen. Saya merasa seperti sedang tumbuh penuh wawasan, terkoneksi dengan dunia. Namun, lambat laun saya menyadari bahwa pengetahuan di dunia digital tak selalu membebaskan. Ia sering kali membentuk ilusi: seolah-olah saya mengetahui sesuatu hanya karena saya melihatnya atau menyimpannya di bookmark. Saya tahu banyak, tapi mengerti sedikit. Saya membaca cepat, berpindah dari satu topik ke topik lain tanpa kedalaman.

Dalam konteks ini saya teringat bahwa Foucault pernah berkata. Pengetahuan dan kekuasaan saling terkait. Setiap bentuk pengetahuan adalah juga bentuk kontrol. Kini saya melihat bagaimana algoritma media sosial menjalankan fungsi itu: ia memberi “pengetahuan” yang sesuai dengan keinginanku, membentuk kembali pikiranku agar terus tinggal dalam lingkaran yang sama. Saya berpikir saya sedang mencari kebenaran, padahal saya hanya sedang diperlihatkan pantulan dari diriku sendiri.

Saya menyadari sesuatu yang menakutkan: pengetahuan yang saya dapat bukan lagi alat emansipasi, tetapi alat kuasa yang lebih halus. Kuasa yang tidak memaksa dari luar, melainkan menembus ke dalam keinginan. Saya menganggap diri ini bebas, bebas memilih konten, bebas berekspresi, padahal kebebasan itu sendiri telah diprogramkan. Seperti yang dikatakan Foucault dalam The History of Sexuality (1976, hlm. 60): “Power is tolerable only on condition that it masks a substantial part of itself.” Dan memang, kekuasaan digital ini menutupi dirinya dengan lapisan kenikmatan. Ia membuat saya, dan kita senang dan seakan merasa bahagia dikontrol…

Bersambung

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *