Thu. Mar 12th, 2026
Potret Kemiskinan
Potret Kemiskinan
Potret Kemiskinan
Potret Kemiskinan

Abstrak

Istilah kemiskinan kultural atau Cultural of Poverty merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Oscar Lewis (1914-1970). Konsepnya ini merupakan sumbangan pemikiran yang penting dalam antropologi kemiskinan, yang berbeda dari pendekatan ekonomi struktural murni, Dalam tulisannya, Lewis menekankan dimensi kultural sebagai pola adaptasi kaum miskin terhadap kondisi marginal yang kronis. Berdasarkan tesis ini, maka artikel ini bertujuan untuk menguraikan konsep kemiskinan kultural menurut Lewis, karakteristik utamanya, serta implikasi teoretis dan kritik yang menyertainya. Dengan pendekatan analitis-deskriptif, artikel ini menunjukkan bahwa kemiskinan kultural bukanlah penyebab utama kemiskinan, melainkan mekanisme reproduksi sosial yang terbentuk dari relasi struktural yang timpang. Dengan demikian, teori Lewis perlu dibaca secara kritis agar tidak jatuh pada kulturalisasi kemiskinan yang menyalahkan korban.

Kata kunci: kemiskinan kultural, Oscar Lewis, budaya kemiskinan, marginalitas sosial, reproduksi kemiskinan

Pendahuluan

Istilah dan bahkan pemahaman kemiskinan perlu ditempatkan secara berbeda. Karena pada dasarknya kemiskinan merupakan fenomena multidimensional yang tidak dapat direduksi hanya pada kekurangan material atau pendapatan. Jika dikaitkan dalam kajian ilmu sosial, kemiskinan juga dipahami sebagai suatu kondisi sosial yang pada prakteknya melibatkan relasi kuasa, eksklusi struktural, serta pembentukan subjektivitas tertentu. Guna membaca hal ini, tentu ada banyak pendekatan yang dapat digunakan. Namun dalam artikel ini, saya hendak menggunakan pendekatan Oscar Lewis untuk memahami dimensi non-material kemiskinan dengan mengacu pada konsepnya tentang culture of poverty.

Siapa sesungguhnya Oscar Lewis? Dalam beberapa referensi dijelaskan bahwa Oscar Lewis merupakan seorang antropolog Amerika yang lahir pada 25 Desember 1914 dan meninggal pada 16 Desember 1970. Semasa hidupnya, ia memfokuskan studi etnografi terhadap komunitas miskin. Salah satu studinya yang terkenal adalah ketika dia mencetuskan teori tentang kemisikinan kultural yang diperoleh melalui penelitian panjang terhadap komunitas miskin di Puerto Rico, Mexico dan Amerika Serikat. Melalui karya-karyanya seperti Five Families (1959) dan La Vida (1966), Lewis sampai pada argument bahwasanya kemiskinan yang berlangsung dalam waktu yang lama dapat melahirkan suatu pola budaya tersendiri berupa nilai, sikap, dan praktik hidup yang relatif stabil serta diwariskan antar generasi. Pendekatannya dalam memahami pola ini, menandai pergeseran penting dari analisis kemiskinan yang semata-mata struktural menuju pemahaman yang lebih kultural dan simbolik.

Walaupun pandangannya menjadi landasan untuk memahami kemiskinan, namun teorinya ini masih menuai perdebatan. Sebab pada satu sisi, Lewis dinilai telah membuka ruang untuk memahami bagaimana kemiskinan direproduksi melalui proses sosialisasi sehari-hari. Namun pada sisi yang lain konsep ini sering dituduh berkontribusi pada stigmatisasi kaum miskin. Oleh karena itu, pembacaan kritis terhadap pemikiran Oscar Lewis menjadi penting, terutama dalam konteks kajian budaya kontemporer.

Konsep Dasar Culture of Poverty

Kemiskinan kultural atau culture of poverty menurut Lewis merupakan suatu subkultur yang tumbuh dan berkembang di kalangan kelompok miskin. Perkembangan ini merupakan hasil dari adanya adaptasi terhadap kondisi ketimpangan sosial seperti keterbatasan, ketidakpastian dan marginalitas struktural (Lewis, 1966). Lewis bahkan menegaskan bahwa budaya kemiskinan bukanlah suatu budaya yang dimiliki semua orang misikin, melainkan budaya yang muncul dalam kondisi sosial tertentu dalam masyarakat kapitalistik. Kemunculan budaya ini ditandai oleh stratifikasi kelas yang sangat tajam dan juga mobilitas sosial yang terbatas (adanya pembatasan ruang gerak terhadap indvidu dan atau masyarakat tertentu).

Lebih dalam, Lewis menjelaskan bahwa kemiskinan kultural terbentuk ketika individu dan keluarga miskin, diperlakukan dan diupayakan oleh sistem tertentu, untuk mengalami momen kegagalan berulang dalam mengakses sumber daya ekonomi, pendidikan, dan politik. Dalam situasi tersebut, berkembanglah pola-pola orientasi hidup dan pembentukan paradigma berpikir yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Pola yang lainnya yang juga muncul adalah adanya ketergantungan pada jaringan informal, serta sikap skeptis (bahkan hilangnya kepercayaan) terhadap institusi formal negara dan pasar (Lewis, 1966).

Yang perlu digarisbawahi adalah, Lewis sesungguhnya tidak memandang budaya kemiskinan sebagai causa prima kemiskinan. Sebaliknya, ia menekankan bahwa budaya tersebut adalah hasil produksi struktur sosial yang tidak adil, yang kemudian berfungsi sebagai mekanisme reproduksi kemiskinan antar generasi.

Bersambung…

 

By Ruang Nalar

Penulis amatir yang menulis bukan hanya sekedar hobbi melainkan sebagai cara untuk berada

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *