Kemiskinan Kultural: Suatu Karakteristik
Menurut Lewis ada sejumlah karakteristik yang pada umumnnya muncul dan nampak dalam komunitas yang lahir dari culture of poverty. Karakteristik yang mucul bersifat deskriptif,, bukan normatif, dan perlu dipahami dalam konteks struktural yang melingkupinya. Beberapa karakteristik itu antara lain:
Pertama, terdapat orientasi waktu jangka pendek (present-time orientation). Individua tau komunitas yang muncul dalam culture of poverty cenderung memusatkan perhatian pada kebutuhan saat ini karena masa depan dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak pasti, sulit diharapkan, sulit dicapai dan sulit dikendalikan (Lewis, 1966, hlm. 23–25).
Kedua, muncul rasa fatalisme dan ketidakberdayaan. Kaum miskin sering kali merasa bahwa usaha personal tidak akan banyak mengubah kondisi hidup mereka, sehingga berkembang sikap pasrah terhadap nasib (Lewis, 1959, hlm. 7).
Ketiga, terdapat rendahnya partisipasi dalam institusi formal, seperti pendidikan, organisasi politik, dan sistem keuangan formal. Hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh tumbuh dan menguatnya rasa ketidakpercayaan terhadap institusi-institusi tersebut melainkan juga merupakan hasil dari pengalaman eksklusi yang berulang (Lewis, 1966, hlm. 48).
Keempat, struktur keluarga dan jaringan sosial. Budaya kemiskinan cenderung berorientasi pada solidaritas internal yang kuat, namun terbatas dalam jangkauan sosial yang lebih luas. Jaringan ini berfungsi sebagai mekanisme bertahan hidup, pembentukan ideologi yang pasrah pada nasib dan oleh karena itu turut membatasi mobilitas sosial mereka yang miskin.
Bersambung…..
