2. Identitas Religius Performatif
Setelah menganalisis bagaimana performativitas identitas religius menjadi sebuah masalah dan bagaimana Facebook memfasilitasi performativitas ini, maka pada bagian ini saya akan menjelaskan identitas religius yang bagaimanakah yang terkonstruksi. Berdasarkan observasi, pembacaan dan analisis saya menemukan bahwa identitas religius yang terkonstruksi dalam ruang media sosial Facebook merupakan identitas religius yang performatif. Identitas ini dapat menjadi bermasalah karena beberapa alasan yang terkait dengan keautentikan, konteks sosial, dan dampak psikologis individu.
Pengamatan yang saya lakukan terletak pada konten di mana para pengguna mengutip ayat-ayat Kitab Suci dan membagikannya dalam status Facebook. Saya menemukan bahwa ada semacam kebutuhan untuk “sharing the Word” kepada para pengguna yang lain. Hoover menjelaskan bahwa aktivitas untuk membagikan konten religius ini merupakan suatu bentuk komunikasi dan usaha untuk mengkonstruksi identitas religius (Hoover, 2006:78).
Hoover juga mencatat bahwa ada ketegangan antara menjadi otentik dan berperilaku performatif di media sosial, yang dapat mempengaruhi bagaimana individu merasa dan mengekspresikan apa yang mereka yakini. Ketegangan ini terletak pada bagaimana menampilkan identitas religius yang riil sebagai identitas religius yang virtual. Ketegangan ini bagaimanapun caranya akan tetap bermasalah karena apa yang yang ditampilkan secara publik dan apa yang dirasakan atau dipraktekkan secara pribadi menjadi berbeda. Jadi dengan kata lain, identitas religius yang terkonstruksi dalam ruang media sosial Facebook mengarah pada identitas religius yang performatif karena apa yang dipraktekkan berbeda dengan yang ditampilkan, dan apa yang ditampilkan tidak mengandung secara utuh apa yang dirasakan atau yang menurut Hoover permasalahan ini terletak pada ketidakautentitkan. Identitas yang dibentuk di ruang digital tidak mencerminkan aspek tertentu dari diri individu karena apa yang mereka pilih untuk dibagikan, dapat berbeda dari identitas mereka di dunia nyata (Hoover, 2006:125-126).
Identitas religius yang diperformativitaskan para pengguna di Facebook merupakan identitas religius yang performatif karena hanya terfokus pada dimensi pertunjukkan atau penampilan di mata para pengguna yang lain. Hal ini berpotensi mengurangi esensi spiritualitas dari sebuah keyakinan religius dan menjadikannya hanya sekadar teater atau pencitraan. Identitas religius yang ditampilkan telah dipoles dan dikurasi dengan tujuan hanya untuk menarik perhatian, like dan komentar di ruang virtual Facebook (Jenkins, 2013:22-23)
Sisi lain dari identitas religius yang performatif adalah mengarah pada arogansi dan justifikasi. Identitas ini dapat mengkonstruksi perilaku superior dan juga menghakimi orang lain yang memiliki keyakinan yang berbeda. Perilaku semacam ini berpeluang menciptakan konflik secara verbal dalam ruang virtual dan dapat pula berujung pada konflik fisik dalam skala yang lebih besar di luar ruang virtual.
Secara psikologis, identitas religius yang performatif dapat menimbulkan masalah psikologis yang diakibatkan karena para pengguna mungkin merasa tertekan untuk mempertahankan, mengkonstruksi dan mempermanenkan citra dan identitas yang harus mereka konstruksi di depan para pengguna yang lain.
Saya mengamati, pada umumnya para pengguna Facebook berada dalam sebuah ruang di mana setiap orang berkompetisi untuk mencari identitas dan pengakuan sosial. Dalam Facebook para pengguna diarahkan, dituntut dan dipengaruhi untuk mempraktekan hal ini agar memperoleh validasi dan pengakuan. Dengan mengekspresikan kesalehan mereka melalui pertunjukkan identitas religius, para pengguna dapat dihargai dan diterima oleh kelompok sosial tertentu yang memiliki keyakinan yang sama. Masalah psikologis akan muncul ketika apa yang dia bagikan tidak mendapatkan validasi dan pengakuan dari pengguna yang lain. Dia akan merasa tertekan karena berpikir bahwa kontennya bermasalah. Hal yang lain adalah, ketika kontennya memperoleh validasi dan pengakuan dia akan terus-menerus memproduksi konten yang sama dan hal ini juga memiliki pengaruh negative terhadap aspek psikologis pengguna.
Kesimpulan
Fenomena ini performatifivitas identitas religius dan identitas religius performati dalam ruang media sosial Facebook menjadi sebuah masalah karena menciptakan kesenjangan yang kompleks mengenai keautentikan, konteks sosial, dan dampak psikologis individu dan Facebook sebagai ruang untuk berekpresi di dunia virtual juga berkontribusi menciptakan kesenjangan ini. Ada beberapa problem yang dihasilkan yakni mengenai autentisitas dan representasi diri, kontestasi identitas, privasi dan keamanan dan perubahan dinamika otoritas.
Selain itu, Facebook juga berpartisipasi untuk menawarkan dukungan sosial dan spiritual kepada para pengguna yang memiliki ketertarikan yang sama melalui penyebaran konten-konten lewat iklan dan postingan populer. Dengan demikian makin jelas terlihat bahwa Facebook tidak hanya memainkan peran sebagai ruang untuk mengekspresikan kesalehan saja melainkan juga sebagai alat untuk menguasai, menguasai data setiap individu termasuk data identitas religius setiap individu.
Performativitas identitas religius yang ditampilkan menghasilkan identitas religius performative karena tidak sejalan dengan identitas riil yang dimiliki subjek di dunia nyata. Terdapat kemungkinan bahwa subjek yang memproduksi konten religius bisa saja subjek yang dalam kehidupan riil bukanlah orang yang religius, sebagaimana yang dipahami para pengguna Facebook. Bisa saja konten religius yang diproduksikan hanya didasari kepentingan individual agar para pengguna memiliki imaji yang baik, yang religius terhadap subjek tersebut.
Identitas religius performatif yang dihasilkan dalam ruang Facebook bermasalah karena selain hanya sebagai sebuah pertunjukkan saja, identitas tersebut juga cenderung mengkonstruksi perilaku arogansi dan justifikasi. Masalah lainnya adalah bahwa identitas religius performatif yang terkonstruksi juga membawa masalah psikologis karena para pengguna terjebak dalam lingkaran setan pencarian akan validasi dan pengakuan.
Daftar Pustaka
Sumber Buku dan Jurnal Ilmiah
Campbell, H. A. (2013). Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media. New York: Routledge.
Hoover, Stewart M., and Lynn Schofield Clark. (2002). Practicing Religion in the Age of the Media: Explorations in Media, Religion, and Culture. Columbia: Columbia University Press.
Hoover, Stewart M. (2006). Religion in the Media Age. New York: Routledge.
Hoover, Stewart M. (2012). Media and Religion: Foundations of an Emerging Field. New York: Routledge.
Hoover, Stewart M. (2021). Media and Religion: Foundations of an Emerging Field. New York: Routledge.
Jenkins, H., Ford, S., & Green, J. (2013). Spreadable Media. New York: New York University Press.
Lövheim, M. (2011). Personal and Popular: The Politics of Social Media in the Church of Sweden. Nordic Journal of Religion and Society 25:2.
Rachmah Ida. (2014). Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media Grup.
Saukko, Paula. (2003). Doing Research in Cultural Studies. London: Sage Publications.
Tufekci, Z. (2017). Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. London: Yale University Press.
Van Dijck, J. (2013). The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media. Oxford, UK: Oxford. University Press.
Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power.
Sumber Internet
Katadata. (2023). Tiga Miliar Pengguna Facebook, Kokoh Jadi Medsos Populer Dunia Oktober 2023. Diunduh dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/11/22/3-miliar-pengguna-facebook-kokoh-jadi-medsos-populer-dunia-oktober-2023 pada Juni 2024.
Data Goodstats. (2023). Negara dengan Pengguna Facebook Terbanyak 2023. Diunduh dari https://data.goodstats.id/statistic/negara-dengan-pengguna-facebook-terbanyak-2023-BM6qL pada Juni 2024.
