Genosida sebagai Peristiwa Diskursif dan Politik Makna
Dalam perspektif Foucault, genosida tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa kekerasan fisik atau pelanggaran HAM yang bersifat faktual, melainkan sebagai peristiwa diskursif yang diproduksi, dinarasikan, dan dilegitimasi melalui relasi kuasa pengetahuan. Kekerasan ekstrim tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berakar pada proses historis panjang di mana bahasa, kategori sosial, dan rezim kebenaran bekerja untuk menormalisasi eliminasi kelompok tertentu (Foucault, 1972; 1980).
Melalui wacana, kelompok tertentu dikonstruksikan sebagai “ancaman”, “abnormal”, atau “bukan bagian dari tubuh sosial”. Dalam konteks ini, genosida merupakan puncak dari proses dehumanisasi diskursif, di mana subjek korban terlebih dahulu dihapus dari tatanan makna sebelum dihapus secara fisik. Bahasa administratif, hukum, dan keamanan berfungsi sebagai teknologi kekuasaan yang menyamarkan kekerasan dalam istilah teknokratis seperti “penertiban”, “stabilisasi”, atau “keadaan darurat”.
Foucault menegaskan bahwa kebenaran bukan sesuatu yang netral, melainkan hasil dari mekanisme institusional yang menentukan apa yang boleh dikatakan, siapa yang boleh berbicara, dan pengalaman mana yang dianggap sah (Foucault, 1980). Dalam konteks pasca genosida, produksi makna tentang peristiwa kekerasan sering kali didominasi oleh negara, lembaga hukum, atau organisasi internasional, sementara narasi korban direduksi menjadi testimoni yang harus menyesuaikan diri dengan format legal dan moral tertentu.
Kekerasan Struktural dan Biopolitik Pasca-Perang
Jika genosida merepresentasikan bentuk ekstrem dari kekuasaan yang membunuh, maka fase pasca-perang memperlihatkan transisi menuju kekuasaan yang mengelola kehidupan, sebagaimana dirumuskan Foucault dalam konsep biopolitik. Biopolitik bekerja melalui regulasi populasi, normalisasi kehidupan sosial, serta manajemen trauma dan penderitaan (Foucault, 1978; 2003).
Dalam konteks pasca-genosida, kekerasan tidak serta-merta berakhir, tetapi bertransformasi menjadi kekerasan struktural yang dilembagakan melalui kebijakan rekonsiliasi, bantuan kemanusiaan, rehabilitasi trauma, dan program pembangunan. Praktik-praktik ini, meskipun tampak humanistik, sering kali mengandung mekanisme disipliner yang membatasi cara korban memahami dan mengekspresikan penderitaan mereka.
Korban diklasifikasikan, didata, dan dinilai berdasarkan kategori administratif: “penyintas sah”, “korban tidak langsung”, atau “warga terdampak”. Proses ini menunjukkan bagaimana tubuh dan pengalaman individu dimasukkan ke dalam logika statistik dan kebijakan public sebuah ciri khas biopolitik modern. Kekerasan struktural bekerja bukan melalui pembunuhan langsung, melainkan melalui pengaturan hidup yang timpang, penghapusan akses, dan pengendalian narasi (Rabinow & Rose, 2006).
Dengan demikian, pasca-perang bukan ruang netral penyembuhan, melainkan medan baru relasi kuasa di mana kehidupan korban diatur agar selaras dengan stabilitas politik dan tatanan sosial yang diinginkan.
Trauma Kolektif sebagai Efek Rezim Kebenaran
Dalam kerangka Foucauldian, trauma kolektif tidak dipahami semata sebagai fenomena psikologis, tetapi sebagai produk sosial dan diskursif. Trauma dibentuk oleh cara masyarakat dan institusi berbicara tentang kekerasan, mengingatnya, serta mengelolanya dalam ruang publik. Rezim kebenaran pasca-genosida seringkali menentukan trauma mana yang harus diakui, bentuk ekspresi apa yang harus dianggap sah, dan kapan penderitaan dianggap “cukup” untuk diakhiri.
Selain itu, narasi rekonsiliasi sering kali memproduksi tuntutan moral terhadap korban untuk memaafkan, melupakan, dan “move on”. Dalam bahasa Foucault, ini merupakan bentuk teknologi diri, di mana individu diarahkan untuk mengatur emosi dan ingatannya sesuai norma sosial dominan (Foucault, 1988). Trauma sebagai efek atau hasil dari genosida, juga harus diselaraskan dengan narasi dominan. Trauma yang tidak sesuai dengan narasi resmi misalnya kemarahan, keinginan akan keadilan radikal, atau penolakan rekonsiliasi sering kali dipathologisasi atau didelegitimasi. Dengan demikian, trauma kolektif hanya menjadi medan konflik antara pengalaman hidup korban dan mekanisme kekuasaan yang berupaya menstabilkan ingatan publik.
Produksi Subjektivitas Korban Pasca-Perang
Salah satu kontribusi penting Foucault adalah analisis tentang subjektivasi, yakni proses di mana individu dibentuk sebagai subjek melalui relasi kuasa. Dalam konteks pasca-genosida, korban tidak hanya mengalami kekerasan, tetapi juga dibentuk sebagai subjek tertentu: korban yang tangguh, korban yang memaafkan, korban yang “berdamai”. Subjektivitas ini tidak muncul secara alami, melainkan diproduksi melalui diskursus kemanusiaan, program rehabilitasi, ritual peringatan, dan kebijakan rekonsiliasi.
Korban yang menolak identitas tersebut berisiko dianggap tidak kooperatif atau menghambat proses perdamaian. Di sinilah kekerasan struktural bekerja secara halus: bukan dengan memaksa secara fisik, tetapi dengan membatasi horizon kemungkinan identitas dan suara korban.
Foucault menegaskan bahwa di mana ada kekuasaan, di situ selalu ada resistensi. Oleh karena itu, analisis Foucauldian membuka ruang untuk membaca praktik-praktik ingatan alternatif, narasi tandingan, dan bentuk perlawanan simbolik sebagai upaya korban merebut kembali agensi atas pengalaman mereka (Foucault, 1982).
Penutup: Membaca Genosida sebagai Medan Kuasa yang Berkelanjutan
Melalui lensa Foucault, genosida dan kekerasan struktural tidak dipahami sebagai anomali sejarah, melainkan sebagai bagian dari rasionalitas kekuasaan modern. Kekerasan tidak berhenti ketika perang usai, tetapi berlanjut dalam bentuk pengelolaan kehidupan, produksi makna, dan pembentukan subjektivitas pasca-perang.
Pendekatan ini memungkinkan kajian kritis yang tidak hanya menuntut pengakuan atas kekerasan masa lalu, tetapi juga membongkar mekanisme kontemporer yang mereproduksi ketidakadilan atas nama perdamaian dan rekonsiliasi. Dengan demikian, teori Foucault menyediakan perangkat analitis yang kuat untuk memahami genosida sebagai proses historis, diskursif, dan politis yang terus membentuk pengalaman manusia hingga hari ini.
Referensi
Foucault, M. (1972). The Archaeology of Knowledge. London: Tavistock.
Foucault, M. (1978). The History of Sexuality, Vol. I: An Introduction. New York: Pantheon Books.
Foucault, M. (1980). Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972–1977. New York: Pantheon.
Foucault, M. (1982). “The Subject and Power.” Critical Inquiry, 8(4), 777–795.
Foucault, M. (1988). Technologies of the Self. Amherst: University of Massachusetts Press.
Foucault, M. (2003). Society Must Be Defended. New York: Picador.
Rabinow, P., & Rose, N. (2006). “Biopower Today.” BioSocieties, 1(2), 195–217.
Farmer, P. (2004). “An Anthropology of Structural Violence.” Current Anthropology, 45(3), 305–325.
